Pukul Tujuh

Sekian lama aku telah menantimu kembali. Kembali dari kota perantauanmu. Kota yang memberimu banyak ilmu tentang hidup dan kehidupan. Ya, kamu. Kamu sayang. Bagaimana keadaanmu saat ini? Apakah telah banyak berubah? Aku disini menunggumu penuh harap. Perasaan rindu yang telah menggumpal dalam diriku. Ingin kurasakan kasihmu. Ingin kubenamkan kepalaku pada bidangnya dadamu. Ingin kudengar hangatnya suaramu menempel dalam celah – celah telingaku. Curahkan kata hati yang tertunda, tatap mata yang tertunda. Aku sangat menantikan kedatanganmu kembali, disini. Di rumah kecilku. Pukul tujuh. Yah, pukul tujuh tulismu dalam sebuah pesan singkatmu malam itu. Malam kedatanganmu dari kota itu. Kiranya waktu dapat mempertemukan kembali jiwaku dengan jiwamu. Walau hanya sebatas panjangnya masa libur semester ini, meski kita merasakannya begitu cepat.  

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s